Powered By Blogger

Seach Blog

Jumat, 29 Mei 2009

For Love Only (Part 2)


03.15 WIB


Bambang Pamungkas yang seperti sudah kita ketahui, biasa menyingkat namanya menjadi Bepe telah memakai seragam orangenya dengan rapi, lengkap dengan handband putih panjang di kedua sisi lengannya, handband biru khusus kapten di lengan kanannya dan pengaman di kedua kakinya.
Sambil mendengarkan alunan piano Mozart lewat mp3nya, ia berdiskusi dengan Pak Isman tentang formasi 4-2-2 yang akan mereka gunakan di pertandingan. Padahal sebenarnya sebenarnya mereka sedang membahas rencana busuk sambil sesekali main mata dengan pak Bajuri yang berada tak jauh dari mereka. Sementara pemain lain masih memakai atribut-atribut sepak bola mereka.


“ Ya’ pemirsa, sekarang kita sedang berada di ruang ganti pemain klub Persija. Di sini kita dapat melihat para pemain telah memakai seragam dan atribut mereka dan bersiap untuk menghadapi tim Sriwijaya F.C. ..”

Rupanya tadi adalah suara Anandya, wartawan wanita ANTV yang masuk bersama seorang kameramen, mengambil gambar di ruangan itu yang ditayangkan langsung secara nasional.

“ Sekarang kita akan mewawancarai Pak Isman Jasulmei, asisten pelatih Persija untuk mengetahui lebih jelas persiapan tim ini di sebelum beraksi di lapangan hijau,” Anandya menyorongkan mic-nya ke Pak Isman,” bagaimana Pak, bagaimana keadaan pemain anda saat ini?”
Pak Isman menjawab dengan tenang,” ya, seperti yang anda lihat saat ini. Para pemain Persija tampak fit untuk mengikuti pertandingan ini. Alhamdulillah untuk pemain andalan Persija tidak ada yang mengalami cedera serius, saya berharap kami akan tampil di lapangan dengan baik."
“ Ok Pak Isman. Anda tampak sangat yakin tim anda akan tampil dengan baik.”
Pak Isman mengangguk,” kami akan berusahan semaksimal mungkin dan yang menentukan hasil akhirnya nanti adalah yang di atas.”

“ Terima kasih pak Isman.., ya’ sekarang saya akan mewawancarai kapten tim Persija, Bambang “ Bepe” Pamungkas,”

Anandya menyapa Bepe dengan ramah,” selamat sore Bepe.”

“ Selamat sore,” jawab Bepe sambil melepas earphonenya. “Bepe ini tampak santai ya, padahal akan menghadapi sebuah pertandingan penting di Indonesian Super League.”
Bepe tertawa kecil mendengar pernyataan Anandya,” mungkin kelihatannya saja ya saya bersikap santai. Tapi memang setiap bertanding saya berusaha untuk santai saja agar pikiran saya jernih dalam bermain bola.”
“Bagaimana menurut Bepe hasil yang akan dicapai tim Persija nanti?”

“Saya yakin tim Persija akan menang karena memang kami telah melakukan persiapan yang matang. Saya yakin kami akan unggul dari Sriwijaya, Insya Allah.”

“Terima kasih banyak untuk Bepe dan semoga harapan anda terkabul.”
“ Pemirsa sekarang saya punya hadiah yang saya berikan kepada salah satu pemain Persija,” tim wartawan yg lain memberi Anandya satu paket obat Tripoten yang biasanya akan ia berikan kepada salah satu pemain bola. Sekalian untuk promosi obat kuat tersebut.

Sementara itu Bepe duduk di kursi ruang ganti dengan pikiran tenang. Ia sangat yakin timnya akan memenangkan pertandingan.


03.30 WIB

Matahari tampak bersinar terang. Sore itu adalah sore yang cerah. Di sebuah sisi lapangan tampak para pemain Sriwijaya F.C. sedang melakukan pemanasan.


Begitu juga Ferry, ia sedang melakukan pemanasan khusus pada kedua pergelangan tangannya yg nantinya akan menjadi juru pelindung gawang timnya.


Di sisi lain lapangan, ia memperhatikan Bambang Pamungkas yang terkenal dengan julukan pemain ber-killer insting serta teman duet maut striker itu, Alyudin, yang sedang mendengarkan instruksi terakhir dari asisten pelatih Isman Jasulmei.


Dari jauh Ferry melihat beberapa suporter wanita sudah standby di tribun bawah. Mereka tidak mau kalah dengan suporter pria Sriwijaya F.C., memakai atribut tim kesayangannya dengan lengkap dan tidak ketinggalan membentangkan poster bertuliskan “We Love Ferry Forever”. Mereka adalah pendukung setia kiper Sriwijaya itu. Yang selalu meneriakkan namanya dan menyorakinya ketika ia bertanding.

Memang Ferry Rotinsulu dianugerahi wajah yang tampan yang membuat kaum hawa jatuh hati padanya. Namun kali ini Ferry tidak peduli dengan para penggemarnya itu. Ia masih memikirkan masalahnya kegagalannya melamar gadis pujaan hatinya.


Stadion Lebak Bulus yang berkapasitas 12.500 orang itu tampak ramai dengan sorak-sorakan para suporter yang bersemangat mendukung tim kesayangannya. Mereka memakai atribut tim dukungannya seperti kaos, topi, syal, dan lain-lain.
Namun tribun penonton didominasi lautan suporter berbaju orange yang meneriakkan yel-yel Persija dan Jakmania sambil menenteng-nenteng boneka macan kebanggaan mereka.
Di berbagai sudut lapangan telah terpasang kamera stasiun swasta ANTV yang siap menyiarkan pertandingan semi final itu ke seluruh belahan Indonesia.

Saatnya tiba. Para anggota tim Sriwijaya F.C. dan tim Persija telah berbaris berdampingan. Mereka memasuki lapangan Lebak Bulus dengan dipimpin oleh wasit yang diikuti hakim garis dan beberapa pria yang membawa bentangan bendera Indonesian Super League.
Tim Sriwijaya dan Persija saling bersalaman. Kemudian mereka menempati tempatnya masing-masing.
Saat Ferry menempati gawangnya, penggemarnya yang merupakan kumpulan gadis-gadis remaja itu berteriak keras,”Ferry!Ferry!! I love you!” sambil mengibarkan poster mereka dengan penuh percaya diri.
Ferry membuang muka, acuh tak acuh. Tapi penggemarnya malah makin bersorak girang mengumandangkan namanya.

Sementara itu, Bambang Pamungkas telah berhadapan dengan Carlos Renato Elias. Wasit mengundi dengan koin. Ia melemparnya ke atas setelah masing-masing kapten memilih salah satu sisi koin itu.
“ Priit..!” benda kecil di mulut sang Wasit bersuara nyaring. Petandingan dimulai. Terdengar sorak-sorai para suporter makin bergemuruh keras.
Gendang telinga Ferry serasa mau pecah, namun pria itu sudah terbiasa.
Mereka para suporter melonjak-lonjak dan beberapa mengibarkan bendera berlambangkan Persija, tim kebanggaan mereka.


Mulanya benda bulat itu menggelinding di tengah lapangan, M. Ilham menendangnya ke arah Sriwijaya F.C. Bola malah diterima oleh Beben Barlian dan ia menendangnya ke arah Christian Worabay. Dengan sigap, Christian membawa bola itu melewati Alyudin dan Hamka Hamzah yang hendak menjepitnya.

Lari Christian cukup cepat, ia segera mengoper bola itu pada Benben yang sedari tadi mengawasi dari sisi lapangan yang lain.

“ Oper sini, Ben!” teriak Ambrizal sambil bersiap. Namun seorang M.Ilham meneklingnya dengan keras. Sehingga Ambrizal jatuh berguling-guling di tanah kesakitan Wasit meniupkan peluitnya dan langsung mengeluarkan kartu kuningnya pada M.Ilham. Sambil memegangi kakinya, Ambrizal berusaha bangkit. M.Ilham tampak membantunya berdiri.
Kelapangan hati merupakan kunci penghindar kericuhan di lapangan yang memang sering terjadi hampir di setiap pertandingan sepak bola Indonesia.


Tahu-tahu bola itu ada di kaki Bambang Pamungkas. Melihatnya, Ferry yang melihat dari kejauhan terlihat panik, jantungnya berdegup kencang. Dilihatnya striker itu membawa bola dan telah dekat ke kotak pinalti.
Carlos berusaha merebutnya, begitu juga dengan Zah Rahan.
Secepat kilat Benben menyambar bola itu dari kaki Bambang. Berhasil! kini bola itu menempel erat di kakinya.
“ Tendang bola menjauh!!” teriak Ferry memberi isyarat kepada Benben.
“ Ok, ok,” Benben menendang keras bola itu hingga melambung tinggi.
Namun Ismed Sofyan menanduk bola itu dengan kepalanya.

”Sial!!” gerutu para pemain Sriwijaya gemas.


Mereka heran, entah perhitungan matematis bagaimana yang Ismed pergunakan hingga benda bulat itu sampai ke tempat striker berambut gondrong yang telah berada di dalam kotak pinalti, dan Alyudin pun sama mengejutkannya dengan tangkas mengumpan bola itu ke arah juru eksekutor mereka yang telah menunggu di samping gawang.
Para pemain Sriwijaya tidak dapat mencegah atau merebut bola yang saling dioper antar pemain Persija.

Save the gate, Ferry!” teriak Carlos sekeras mungkin sambil berlari mencegah Bepe yang segera melakukan aksi tendangan pojok dengan kaki kirinya. Ferry mengambil ancang-ancang untuk menangkap bola. Ia melakukan semua itu sambil membayangkan wajah Annisa dalam-dalam.

Namun sesuatu terjadi pada tubuhnya. Kiper itu tidak dapat bergerak sama sekali!
Bambang menendang bola di kakinya dengan pasti ke arah gawang Sriwijaya. Ferry malah terlihat tidak berusaha menghalau bola. Ia membiarkan bola itu meluncur dengan leluasa menembus gawangnya.

Dan Gol! Bepe langsung bersorak dan langsung disambut dengan pelukan dari teman-temannya. Mereka bersorak gembira meneriakkan nama Persija.
Tentu saja para suporter yang bagai lautan orange itu makin bergemuruh, ramai meneriakkan yel-yel kemenangan mereka.


Namun tiba-tiba wasit meniupkan peluitnya. Rupanya sang wasit menganulir gol yang baru saja dicetak Bepe.
Suporter Persija yang semula bersorak berbalik memaki sang wasit. Mereka mengamuk! Melempari wasit dan para pemain Sriwijaya dengan botol aqua, batu, dan air kencing. Para aparat keamanan di stadion itu langsung bertindang mengamankan amukan penonton. Beruntung jumlah aparat yang dikerahkan cukup banyak sehingga aksi anarkis tersebut dapat segera diredam. Sementara itu di deretan bangku official Persija, Pak Bajuri si menejer Persija memandang lapangan dengan geram.

” Sial!” maki Pak Bajuri,” rupanya mereka menyuap wasit.”

Badan Ferry yang tadi kaku langsung lemas. Ia terduduk di tanah sambil menahan darah yang tiba-tiba keluar dari hidungnya. Darah itu menetes tanpa henti.

Couch Darmawan meminta timeout pada wasit. Ia memanggil tim medis untuk segera menolong Ferry.

” Kamu kenapa Fer?” tanya Pelatih Sriwijaya itu prihatin.
Kiper itu kini menahan darah yang keluar dari hidungnya dengan kapas yang disediakan tim medis.” Saya nggak tahu, Pak. Sebelumnya saya tidak pernah begini.”
” Sebaiknya saya mengeluarkan kamu saja.”
” Jangan, Pak!” ucap Ferry memohon,” saya masih bisa meneruskan pertandingan.”
” Kamu jangan memaksakan diri, Fer, hanya demi bonus dan gadis itu,” ujar Couch Darmawan.
” Dia harus melakukannya Pak,” ucap Pak Marwan yang tiba-tiba berada di belakang Couch Darmawan.
Couch Darmawan menggelang,” kalian gila ya? Mimisan itu bukan hal sepele!”
” Pak, kalau dia benar-benar mentok tidak kuat lagi, baru kita keluarkan dari pertandingan,” saran Pak Marwan.
” Iya, saya memang masih bisa melanjutkannya, Pak.” Ferry berusaha berdiri.
” Baiklah...,” Pelatih Darmawan mengalah.

Pertandingan pun dimulai kembali. Sementara darah yang mengalir dari hidung Ferry sudah berhenti, namun sebenarnya kiper itu masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya.

Sepertinya mereka melakukan sesuatu padaku, batin Ferry memandang deretan manajer dan official Persija
Ia tidak dapat berbuat apa-apa selain tetap konsentrasi mengikuti arah bola. Namun tiba-tiba kiper itu merasa pandangan matanya berkunang. Langkahnya terhuyung. Ferry mencoba berpegangan pada tiang. Couch Darmawan yang memperhatikan kondisi Ferry itu hendak menghampirinya. Ferry tidak kuat lagi. Sebelum pelatihnya meminta timeout, tubuh Ferry telah ambruk ke tanah. Dan semua menjadi gelap...
***

” Brak!!” terdengar benturan keras mengenai TV kamar VIP di rumah sakit Dr.Cipto Mangunkusumo. Rupanya ada seorang pasien yang melempar remote ke TV kamarnya.
Dua hal yang paling kiper Sriwijaya itu benci. Rumah sakit dan kekalahan timnya dalam kompetisi sepak bola. Dan keduanya menghampirinya bersamaan. Ferry menenggelamkan kepalanya di antara kedua pahanya. Hatinya semakin panas mendengar sorak-sorakan kemenangan Persija. Ia marah! Semua ini tidak adil! Harusnya Sriwijaya yang bersorak. Harusnya kini ia yang mengangkat piala ISL tinggi-tinggi. Dan harusnya ia yang menerima uang 75 juta itu, ditambah tabungannya. Kemudian keesokan harinya ia langsung pergi ke rumah keluarga Maulana dan langsung melamar Annisa. Namun semua itu tidak terjadi. Ia masih berbaring di kamar rumah sakit tanpa bisa berbuat apapun.
***

Beberapa hari kemudian...

Aroma roti panggang dan cappuchino panas yang segar tidak menggetarkan selera makannya. Ia masih termenung memandangi meja marmer Cafe Dennies’s di hadapannya dengan hati galau.


Akhirnya lamunannya terpecah oleh kehadiran sosok seorang gadis manis berkulit putih yang telah duduk dihadapannya. Gadis itu tersenyum penuh kehangatan.

” Hay, Fer, kamu tahu nggak betapa susahnya ketemu kamu di sini?” suara renyah keluar dari mulut gadis itu,” habis kamu telpon aku langsung mencari cara untuk ke sini.”
” Say...,” Ferry berhenti untuk menghela nafas,” ayahmu sampe ngelarang ketemu aku. Aku benar-benar sudah gagal, Nis.”

Anissa menggenggam tangan Ferry,” Fer, aku sudah lihat semuanya di TV. Kamu berlatih keras banget ya sampai jatuh pingsan gitu.”

” Ini demi kamu....”
” Aduh, Fer sayang, wajahmu pucat. Kamu sakit ya?”
” Nis, trus gimana lagi. Nggak ada jalan lain.”

Mereka berdua terdiam sejenak. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


” Fer, aku punya tabungan di rekening. Tapi nilainya setengah dari jumlah persyaratan Papa, jumlah tabunganku 300 juta, hasil dari bisnis butikku,” ujar Annisa,” mungkin sisanya kamu bisa cari pinjaman ke temen-temenmu atau saudaramu.”

Ferry memainkan sendok kopinya. Ia sebenarnya tidak ingin Annisa ikut-ikutan menyumbang uangnya sendiri. Di mana harga dirinya?

” Baiklah, Nis. Aku akan berusaha mencari uang itu,” kata Ferry akhirnya.
Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa dan memandang gadis itu penuh tekad,” aku janji, Sayang. Aku akan memenuhi pernyaratan ayahmu dan pernikahan kita akan segera berlangsung.”

Annisa mengangguk.

” Aku yakin dapat memenuhi persyaratan ayahmu, Nis karena kita ditakdirkan bersama,” ujar Ferry lagi semakin erat menggenggam tangan kekasihnya.

” Aku akan setia menunggumu. Aku akan terus menunggumu Fer. Aku yakin kamu bisa melalui ujian ini,” janji Annisa.
Akhirnya sepasang kekasih itu meninggalkan Cafe dengan perasaan lega.
Meskipun masalah mereka belum tuntas. Namun mereka yakin ini semua akan segera berakhir.


Ferry memilih kembali ke asramanya. Sesampainya di sana, beberapa anggota timnya seperti Dede Sulaiman, Carlos Renato Elias, dan Firmansyah, sudah berkemas-kemas hendak pulang ke kampung halaman, mengisi waktu libur selama 3 minggu penuh.
Setelah menyapa teman-temannya ia langsung menuju kamarnya sendiri dan membaringkan diri ke tempat tidur.


” Kamu nggak pulang ke Palu, Fer?” sebuah suara cukup mengegetkannya.
Ternyata itu Ambrizal, gelandang tengah tim Sriwijaya yang cukup akrab dengannya.

Ferry hanya menggeleng.
” Fer, bukannya aku ikut campur. Tapi gimana masalahmu dengan keluarga Annisa Katarima itu, udah beres?”
Sekali lagi Ferry menggeleng. Ambrizal jadi kasihan melihat kawannya berwajah suntuk dan tak bergairah.
Memang belakangan ini Ferry yang dikenal sebagai pemuda yg ramah dan ceria berubah menjadi pemurung. Mungkin masalah yang ia derita sangat berat.


” Aku cuma nawarin ya, aku bisa minjemin 50 juta, tabungan sertifikat tanah Abah yg nyampe sekarang nganggur. Mungkin bisa sedikit membantu dan kamu bisa ngembaliin kapan aja, gimana?” tawar Ambrizal.
” Maaf, Zal,” akhirnya keluar juga suara kiper itu,” aku nggak pingin ndapetin uang pernikahanku dengan hutang sana-sini. Itupun belum tentu aku bisa ngembaliin.”
Ferry membalikkan badan membelakangi Ambrizal. Dipandanginya cercahan sinar matahari siang yang masuk melalui jendela kamarnya. Sisa waktu persyaratan pernikahannya tinggal 1 minggu lagi dan dalam waktu dekat ini belum ada pertandingan lagi!

Cercahan sinar itu... ,entah mengapa cercahan sinar kekuningan itu mengingatkannya akan masa lalu, keluarganya di Palu, dan...
” Oh iya!” seru Ferry tiba-tiba.

Ambrizal ikut terlonjak kaget.” Apaan sih, Fer?"

Sebenarnya sudah beberapa hari ini ide itu datang dan pergi dari otaknya. Namun tak ada salahnya kalau kali ini ia mencobanya.
” Aku punya ide untuk mendapatkan uang 1 milyar itu,” Ferry langsung beranjak dari tempat tidurnya kemudian memakai jaket dan topinya,” aku pergi dulu yah. Kalo Couch Darmawan nyari suruh ngubungin hapeku.”

” I...iya deh,” jawab Ambrizal dengan heran. Ferry keluar dari asramanya dan mengendarai motor, menyusuri jalan menuju daerah pinggir kota Palembang. Tepatnya ke sebuah perumahan elit Sriwijaya Residence. Ia yakin inilah satu-satunyanya jalan keluarnya dari masalahnya.
***

” Babi ngesot belum beranjak. Ya, hm, ia masih berputar-putar di lantai 2 mal,” lapor Ferdy sambil memperhatikan lokasi GPS sasarannya dari komputer.

"Baik! Laporkan terus ke mana saja Babi ngesot bergerak,” balas suara di earphone Ferdy. Ferdy menurutinya. Ia memperhatikan setiap gerakan Babi ngesot. Sasarannya itu sepertinya hendak pergi ke gerai handphone namun akhirnya malah memasuki sebuah restoran Jepang dan tetap diam di sana.

” Erdy, kamu nggak jadi kan pergi ke Hongkong?” terdengar suara manja dari seorang pria bule di atas tempat tidur. Bisa dibilang setengah telanjang, satu-satunya kain di tubuhnya hanyalah boxernya yang tipis. Matanya yang biru memperhatikan Ferdy yg sedang bekerja.

” Kamu kan udah aku jelasin, Dave!” jawab Ferdy setengah sewot. Dilihatnya GPS Babi ngesot tetap diam di restoran Jepang, sepertinya ia sedang makan.
So you will leave me?” tanya Dave yang bernama lengkap David itu tidak percaya,” please, Erdy, don’t do that.”

Ferdy menyalakan rokok, menghisap dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke layar notebook. Sebenarnya ia mulai muak dengan tingkah manja David.

Dy, you don’t pick me up?” Dave memandang Ferdy kesal.

Ferdy menggeleng dengan wajah datar tanpa ekspresi

How dare you, Dy!” David mulai sesenggukan,” okay. If you won’t me, I can find the other man.”
Ferdy diam saja sambil terus menghisap rokoknya, membiarkan David mengoceh sendiri.
You hear me Dy? You’re cruel man. You can’t do this. You...

” Ssst!!” Ferdy langsung memotong ocehan David. Ia melihat Babi ngesot keluar dari restaurant Jepang. Dan terus bergerak menuju eskalator.

” Babi ngesot turun ke lantai 1, ia turun lewat eskalator” Ferdy langsung melapor ke pimpinan tim eksekutornya,” pergerakannya cepat, fokus, pergerakannya lebih cepat.”

Kemudian Ferdy langsung membuka hubungannya dengan regu eksekutor BN1 di lantai 1,” Justine, posisi Babi ngesot tepat di tengah. Ia masih bergerak.”
Babi ngesot menuju wartel yang terletak di pojok lantai dasar mal itu. Dengan sigap Ferdy melempar headset penyadap telponnya ke David,” dengarkan pembicaraan Babi itu Dave. Nyalakan juga alat perekamnya.”
I know, I know,” gumam David yang masih merasa belum menumpahkan semua kekesalannya pada Ferdy.

"Sadap telpon Babi ngesot,” perintah Justine.

” Sedang kulakukan,” jawab Ferdy.
Selama beberapa detik semua orang menuggu laporan David. How Dave?” tanya Ferdy tak sabar.
David melempar kertas. Ferdy membacanya.
Ternyata Babi ngesot sedang menelpon keluarganya.
Ferdy meneruskan laporan hasil penyadapan kepada Justine.
” Okey, kami akan melakukannya,” ujar Justine. Ia telah mempersiapkan sniper BN1 di tempat yang tepat.
Beberapa saat kemudian David yang sedang menyadap telepon langsung melepas headsetnya,” mereka telah membunuhnya. Actually they musn’t do that when he call his family.”


Tapi Ferdy tidak peduli. Tugasnya hanya satu, yaitu membunuh target yg telah diberikan bos dan itu baru saja selesai dilakukannya.


” Ting tong! Ting tong! Ting tong!” tiba-tiba terdengar suara bel yang dibunyikan berulang-ulang kali.

Ferdy langsung beranjak dr tempat duduk dan mengaktifkan layar kamera pengawas gerbang rumahnya yg menempel di dinding kamar untuk mengetahui rupa tamu yang datang. Matanya memicing.
” Haa..!” Ferdy terkejut,” dia, ngapain anak itu kesini?” Rupanya ia mengenal tamu itu meskipun sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengannya.

” Siapa tamu itu, Dy?” tanya David penasaran.
” Tamu tak diundang,” jawab Ferdy sambil keluar dari kamar,” aku akan segera mengusirnya!”

Ferdy pergi ke kamar yang dikhususkan untuk baju-bajunya. Ia mengganti baju handuk yang sedari tadi ia kenakan dengan kemaja putih dan celana jeans, kemudian turun ke lantai dasar lewat lift.

Di lantai dasar terdapat lobi yang mewah layaknya lobi hotel.

” Mike! Gustav!” panggil Ferdy kepada dua bodyguardnya.
Kedua pria berbadan besar dan tinggi itu memenuhi panggilan tuannya. Wajah mereka selalu berekspresi datar penuh ancaman.
” Jemput orang itu, antarkan ia sampai ruang tamuku,” perintah Ferdy.
Keduanya mengangguk patuh.

continued to part 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar