Saya hanya ingin menjelaskan bahwa cerita ini hanya fiksi semata.
Jadi, jika ada kecocokan nama, tempat, dan jalan cerita, saya mohon si empunya tidak tersinggung karena sekali lagi ini hanya fiksi.
Langit senja tampak jingga kemerah-merahan. Bola api raksasa yang sudah seharian menyinari bumi semakin lama semakin terbenam membuat langit yang ditinggalkan semakin gelap. Sisa-sisa warna merah jingga yang masih ada tampak indah dan menawan. Hal itulah yg terjadi saat ini di langit Stadion Jakabaring.
“ Fer! Jangan loyo donk. Ayo tangkap lagi!” seru Pak Marwan, pelatih khusus di tim Sriwijaya F.C. yang sedang melatih tangkapan anak asuhnya untuk partai final minggu depan.
Nafas Ferry Rotinsulu, kiper andalan tim itu sudah ngos-ngosan. Peluh bercucuran di seluruh tubuhnya membuat dia basah kuyub. Pada saat itulah langit senja dengan semburat jingganya yang harusnya menawan tidak membuat sang kiper bahagia sama sekali.
“ Pak…,please, Pak. Saya sudah pegel nih,” Ferry memohon agar latihan disudahi saja. Sedangkan teman-teman timnya yang lain sudah menghilang dari lapangan. Hanya ia satu-satunya pemain yang masih latihan di sore itu.
Pak Marwan mengecek jam tangannya,” belum belum. Lima menit lagi baru kamu boleh istirahat. Lanjut!”
“ Pak…,” Ferry merengek.
Couch Rahmat Darmawan, sang kepala pelatih, sudah menenteng tasnya hendak pulang. Ia berhenti sebentar memperhatikan Pak Marwan yang getol melatih Ferry.
” Pak Marwan, sebaiknya dia istirahat. Saya takut dia drop saat pertandingan.”
Namun Pak Marwan tetap kukuh pada pendirian,” Ini semua demi cinta Ferry, Pak. Dia harus melakukannya!”
Pak Marwan memandang mata Ferry dalam,” kamu harus memperjuangkannya, demi dia, Fer. Demi dia…”
Mendengar itu, Ferry terpaksa menurutinya. Ia langsung bangkit seolah-olah baru saja mendapat suntikan tenaga baru,” Iya, Couch. Saya masih kuat latihan.”
“ Baiklah, terserah kamu saja,” akhirnya Couch Darmawan mengalah,” pokoknya saya tidak mau mendengar kamu sakit sebelum pertandingan.”
Ferry mengangguk mantap. Couch Darmawan pun meninggalkan mereka berdua yang melanjutkan latihan terakhir.
Akhirnya saat adzan magrib berkumandang, latihan berakhir. Tubuh Ferry langsung ambruk ke tanah berumput di lapangan itu, dia berbaring tengkurap kehabisan tenaga.
Pak Marwan menarik anak asuhnya yang akhirnya bangkit dengan sempoyongan. Sang pelatih memapah Ferry ke pinggir lapangan.
Suasana lapangan stadion remang-remang karena hanya disinari oleh beberapa lampu di sudut stadion. Ferry meneguk air mineralnya dan berbaring di rumput kelelahan.
“ Fer…,” panggil pak Marwan
“ Hmm…,” gumam Ferry menyahut.
“ Kamu tahu kenapa Bapak melatih kamu seperti ini?”
“ Ya, biar tim kita menang, Pak. Dapat bonus dan aku bisa ngelamar…,” Ferry terdiam sejenak. Ia mengelus-elus kalung liontin berbentuk hatinya, kemudian membukanya. Di dalam liontin itu ada foto seorang gadis cantik nan menawan. Dipandanginya foto itu dengan seksama,” Annisa…”
Pak Marwan tersenyum kebapakan,” Begitulah, Fer. Saya ingin kamu menikah dengan orang yg kamu cintai. Jangan seperti saya,”
akhirnya Pak Marwan menceritakan masa lalunya,” waktu muda dulu, ya seumuran kamu gitu. Saya pernah mencintai seorang gadis Palembang bernama Melani. Kami lama menjalin ikatan cinta sampai akhirnya saya memutuskan untuk melamarnya.”
“ Trus, Pak?” tanya Ferry penuh antusias.
“ Saya datang ke rumah gadis itu, saya juga bawa orangtua saya jauh2 dari Semarang. Pokoknya saya sudah siapin semuanya. Namun ternyata orangtua Melani menolak saya dengan alasan saya bukan keturunan darah biru, sedangkan Melani berasal dari keturunan bangsawan keraton Sriwijaya.”
“ Ya sudah, saya tidak bisa berbuat apa-apa karena ayah Melani sangat keras kepala. Saya pun pasrah dengan penolakan tersebut. Tapi, Fer, akhirnya saya…hu hu hu,” tak disangka Pak Marwan terisak, air mata yg mengalir di pipinya. Ferry mengelus-elus punggung pelatihnya mencoba menenangkan,” akhirnya saya menyesal. Gadis yg kucintai itupun menikah dgn keturunan keraton yg ternyata pengusaha diskotik dan pelacuran. Ia menjadikan Melani sebagai pelacur yg melayani nafsu bejat lelaki hidung belang. Kemudian akhirnya Melani bunuh diri. Ia melakukannya krn tidak tahan dgn pekerjaan haram dan suaminya yg kasar.”
Pak Marwan terisak lagi. Ferry merangkul bahunya,” sudahlah, Pak. Ini bukan sepenuhnya salah Bapak. Mungkin ini sudah takdir Yang diatas. Bapak jgn nagis ya.”
“ Fer, andai saja saya mau berusaha menikahinya, berusaha lebih keras untuk mempengaruhi ayah Melani. Dia pasti tidak akan hidup sengsara seperti itu,” Pak Marwan menghapus air mata dan ingusnya,” makanya Fer, kamu harus perjuangkan cintamu dengan Annisa. Saya tahu kamu pria baik-baik, begitu juga dengan Nisa. Kalian pasti akan menjadi pasangan yg bahagia.”
Ferry mengangguk. Ini masih harapannya untuk mendapatkan Annisa. Bisakah ia melakukannya?
“ Heh…, saya merasa lega deh udah bercerita ke kamu. Saya harap 3 minggu lagi kamu berhasil melamar Nisa. Yuk, Fer, kita shalat magrib dulu.” Pak Marwan bangkit diikuti Ferry. Mereka berdua berjalan beriringan keluar dr stadion.
5 Hari yang Lalu
“ Hm…, jadi kamu ingin menikahi anak saya, begitu?”
“ Iya, Pak. Saya sudah mempersiapkannya,” jawab Ferry penuh keyakinan.
“ Pak Maulana, saya berharap anda mau merestui hubungan putra kami dengan putri Bapak yg nantinya akan berlanjut ke jenjang pernikahan,” tambah Ayah Ferry.
Pak Maulana yg bernama lengkap Andri Maulana itu memandang kedua orangtua Ferry dgn pandangan datar.
“ Saya akan menerima lamaran nak Ferry, tapi,” Pak Maulana berhenti sejenak,” anda semua harus menyediakan mahar perhiasan emas senilai 50 juta dan biaya pernikahan sebesar 1 milyar.”
Ferry menaikkan kedua alisnya terkejut. Ia tidak menyangka calon mertuanya akan berlaku demikian.
Ayah Ferry berusaha tetap tenang,” Maaf, Pak Maulana. Saya harap anda mengerti. Pernikahan itu tidak dinilai dari berapa biaya yg dikeluarkan, tapi dari ikatan suci yg mereka buat, masa depan yg menanti mereka. Saya mohon agar anda menurunkan nilai mahar yg terlalu membebani kami ini. Lagipula mereka sudah lama berpacaran, suka sama suka, Pak. Rencana pernikahan ini juga rencana mereka sendiri, orangtua tidak bisa memaksa.”
Maulana mendengus,” Saya sudah tahu nak Ferry sudah lama berpacaran dengan Nisa. Dan saya tidak bilang kalau tidak merestui hubungan itu. Cuma kalau soal pernikahan, anda semua harus mengikuti ketentuan kami sebagai keluarga keraton Sriwijaya.”
Kedua orangtua Ferry terdiam. Sementara Pak Marwan yg pada waktu itu libur dan ikut menyertai Ferry memandang Pak Andri Maulana geram.
“ Mungkin kalau anda tidak dpt memenuhi syarat saya ya…saya sudah punya calon lain,” tambah Pak Maulana memanas-manasi.
“ Kami bisa kok Pak memenuhi syarat pernikahan itu,” cetus Pak Marwan tiba2. Kedua orangtua Ferry nampak terkejut.
“ Oh ya?”
“ Tentu, Pak. Kalau soal mahar dan biaya pernikahan itu, anak asuh saya ini bisa memenuhinya. Tapi beri kami waktu 3 minggu untuk mempersiapkan semuanya. Mahar dan biaya pernikahan ada dihadapan Bapak hasil dari keringat Ferry sendiri.”
Orangtua Ferry berpandang-pandangan ragu. Begitu juga dengan Ferry.
“ Baiklah,” akhirnya Pak Maulana setuju,” kalau syarat saya sudah terpenuhi. Kita akan mengadakan pernikahan putri saya dengan nak Ferry.”
Seingat Ferry endingnya seperti itu. Ferry, orangtuanya dan Pak Marwan pun pamit pulang. Orangtua Ferry sudah angkat tangan dengan rencana melamar Annisa, putri keluarga Maulana itu.
Tapi Pak Marwan menyatakan bahwa uang bonus memenangkan kompetisi Indonesian Super League dan juara pemain terbaiknya akan mencapai syarat yg dipatok Andri Maulanan.
***
Seorang pria berumur 28 tahun berlari mengitari lapangan stadion Lebak Bulus, diikuti beberapa orang anggota timnya.
Setelah itu ia melakukan sedikit pemanasan pada bagian pinggang dan bahunya. Sinar matahari tampak menyambar-nyambar, tapi tim itu tetap semangat berlatih.
Beberapa orang manajer persija memasang orang-orangan dari papan di depan gawang.
“ Bambang, cobalah tendangan pinaltimu!” seru Isman Jasulmei, asisten pelatih tim Persija.
Bambang Pamungkas, alias bepe, striker andalan persija itu mengambil posisi di tengah lapangan, bola sudah ada di kakinya.
Matanya tampak tajam memandang gawang di depannya. Ia segera menendang dgn perkiraan yg tepat. Bola melambung melewati papan-papan orang-orangan di depan gawang dan masuk ke gawang, namun tidak sampai menyentuh rajutan tali.
“ Tendanganmu kurang keras Bam,” ujar Pelatih Isman sabar.
Bambang mengoper bolanya kepada Agus Indra. Dgn gesit Agus menerimanya dan kali ini dia yang akan melakukan tendangan pinalty. Ia menendang dgn gerakan yg terlatih. Lambungan bolanya tinggi, namun tepat sekali masuk ke arah gawang dan menghantam rajutan tali putih di gawang itu.
Pelatih Isman bertepuk tangan senang, “ Bagus Indra, bagus. Pertahankanlah tendanganmu itu!”
“ Pak Isman,” Bepe tampak mendekati pria paruh baya itu.
“Ada apa, Bam?”
Dengan setengah berbisik Bepe mendekatkan wajahnya seperti akan membicarakan sesuatu yang sangat rahasia,” kiper Sriwijaya itu Pak, sudah disiapkan?”
Pelatih Isman membuang muka, tapi ia tetap menjawab pertanyaan Bepe,” kamu tenang saja Bam, semua itu sudah disiapkan oleh pak Menejer.”
“ Saya kan pingin tahu pak, yang mana yg akan dijadikan titik kelemahan dia.”
“ Ya, kalau nego dengan yang dimintain tolong sudah beres, pasti saya kasih tahu,” jawab Pelatih Isman datar
Namun akhirnya pelatih itu menyeringai penuh kelicikan,” Ahh, sudahlah, sekarang kamu kembali berlatih saja!”
Bepe membalas seringai licik Pelatih Isman. Mereka berdua tampak seperti dua serigala jahat yang bersiap menerkan mangsanya.
“ Okey, Pak!” Bepe berlari ke tengah lapangan, kemudian berlatih oper bola bersama teman-teman timnya.
***
Peniggaran
“ Bagaimana mbah, apakah mbah sudah menentukan akan memakai guna-guna apa?” ujar pak Bajuri yang berusaha tetap kalem dan sopan.
Mbah Slamet, pria sepuh yg berasal dari Solo itu tampak mengangguk-angguk, ia mengelus janggut panjangnya yg sudah beruban. Di depannya mengepul asap putih aroma kemenyan. Mbah Slamet menggenggam untaian kalung dgn biji-biji persegi dari batu hitam berkilauan. Ia terus mengangguk-angguk khitmad.
Pak Bajuri menelan ludah, ia menabahkan dirinya karena telah mendengar pamor mbah Slamet yg dikenal sebagai dukun asli yg kawakan. Profilnya saja pernah masuk majalah “Liberty”, majalah tentang dunia mistik yg paling populer di kota Jakarta. Pokoknya bukan sembarang dukunlah! Hal itu harus dia bayar mahal dgn duduk tahan berlama-lama di sebuah ruang remang-remang dgn seorang pria tua yang mengerikan.
Kini mulut mbah Slamet mendengung-dengung spt lebah, membaca sebuah mantra. Ia menaruh sebuah pot tembikar dan mengisinya dengan beberapa bahan-bahan yg aneh. Pak Bajuri tampak kaget ketika pria tua itu memasukkan benda panjang berwarna coklat spt ari-ari bayi yg baru lahir.
Kemudian mbah Slamet menyiram bahan-bahan tadi dengan cairan aneh, menyalakan api, dan membakarnya. Kali ini menguar bau yg lebih menusuk dr aroma kemenyan yg sudah sedari tadi mengepul di ruangan sempit tersebut.
“ Mana foto orang itu…,” suara mbah Slamet yg serak sempat mengagetkan pak Bajuri, namun pria setengah baya tersebut langsung mengatur nafasnya, berusaha tetap tenang.
Dengan sedikit bergetar, pak Bajuri menyerahkan foto seorang pria muda ke tangan mbah Slamet. Oleh si dukun, foto tersebut diasapi dan kembali terdengar mantra-mantra tidak jelas meluncur dr mulutnya.
Sekitar dua menit kemudian, ritual itupun berakhir
“ Nanti sore..,” gumam mbah Slamet.
“ I..iya..,mbah.”
“ Ya.., nanti sore prajurit-prajurit itu akan datang.”
Tiba-tiba mbah Slamet menatap pak Bajuri tajam sehingga pria paruh baya itu hrs menahan nafas dan jantungnya yg berdegup kencang.
“ Saya sudah membuat perjanjian dgn prajurit-prajurit di pantai selatan..,” lanjut mbah Slamet,” para pengawal Nyi Roro Kidul.”
Bola mata mbah Slamet menghilang! Dari matanya hanya terlihat bagian putihnya saja. Ia mengejang dan menggelepar shg pak Bajuri mundur ke sudut ruangan yg lain karena ketakutan.
Akhirnya dgn sekali sentakan, seperti orang tenggelam yg baru diselamatkan, mbah Slamet tersadar. Matanya mengerjap-ngerjap dan memicing menatap seluruh ruangan.
Dukun itu tersenyum penuh misteri,” pak Bajuri, mendekatlah anda.”
Pak Bajuri dengan ragu duduk kembali ke hadapan mbah Slamet.
“Pak Bajuri, anda sungguh berani sekali telah bertahan menemani saya melaksanakan ritual ini,” kali ini mbah Slamet berbicara dgn ramah.
Pak Bajuri mengangguk cepat, nafasnya masih ngos-ngosan. Namun dalam hatinya terselip rasa bangga dipuji oleh dukun kondang seperti mbah Slamet.
“Nanti sore, pak, seperti yg telah anda minta, sekitar jam 04.00 sore. Ratusan prajurit pantai selatan akan menyerang pemuda bernama Rotinsulu itu…”
“ Bukan begitu yg anda inginkan?”
“ Tt..,tepat sekali mbah. Terima kasih, terima kasih banyak, Mbah..”
Mbah Slamet kembali tersenyum, dr dlm mulutny terlihat giginya yg sudah rompal-rompal.
Tanpa ba bi bu !
Pak Bajuri langsung menyerahkan amplop tebal berisi 5 juta sbg uang muka. Ia buru-buru pamit dan meninggalkan tempat itu dengan tersenyum lega.
***
Awan, awan, dan awan. Hanya itulah pemandangan yang dapat terlihat dari dalam pesawat. Namun berbeda dengan pesawat penerbangan komersial biasa. Pesawat itu disewa khusus oleh pemerintah Palembang untuk menerbangkan tim sepak bola kota kembang tersebut ke Jakarta.
Ferry tidak bosan menatap pemandangan monoton di jendela penumpangnya. Karena sebenarnya ia memikirkan Annisa dan mencoba menimbun perasaan gugupnya dalam menghadapi pertandingan nanti. Menurutnya ini bukan pertandingan biasa. Rasa gugupnya yang semakin memuncak ini belum pernah ia temukan dalam 10 tahun terakhir karirnya di dunia sepak bola. Masa depannya tergantung pada pertandingan ini.
Ferry membuka liontinnya dan terus memandangi foto Annisa. Tiba-tiba matanya memicing.
Suasana di sekitar pemuda itu menjadi gelap ditingkahi kabut tebal mengganggu pandangannya.
“ Di mana ini?” pikir Ferry heran. Ia berada di tempat yang asing.
Tanpa suara, tanpa bau. Ia mencoba berjalan, berharap bertemu cahaya. Namun gelap terus melingkupinya.
Samar-samar Ferry mendengar panggilan lirih, suara itu…suara seorang wanita. Semakin berjalan ke depan, suara itu makin jelas meskipun tanpa wujud.
“ Ferry…Ferry tolong!” Ferry tersentak. Suara itu kini jelas sekali. Tak salah lagi, itu suara Annisa!
“ Ferry! Tolong!” teriak suara itu.
“ Annisa! Annisa! Kamu di mana?” Ferry mencari-cari dalam gelap.
“ Ferry!!”
Tiba-tiba Ferry sampai ke tepi jurang. Ia mencoba menunduk karena suara gadis yang mungkin Annisa semakin jelas. Betapa kagetnya pemuda itu melihat Annisa bergantung di ranting pohon tepi jurang beberapa meter dari tempat ia berdiri, mencoba menyelamatkan diri.
“ Nissa! Aku akan menyelamatkanmu,” Ferry mengulurkan tangannya pada Annisa,” ayo tangkap! Aku akan menarikmu dari situ.”
“ Ferry…aku sudah tidak kuat lagi…”
“ Tidak Nissa! Kamu akan selamat. Sekarang raih tanganku.”
“ Ferry…” tanpa peringatan ranting yang dipegang Annisa patah dan gadis itu langsung meluncur jatuh ke dasar jurang yang tak tampak.
“ Nissa! Nisa! Tidaaak!!”
Tahu-tahu ia sudah berada di lantai pesawat. Nafasnya masih sesak. Tubuhnya basah oleh keringat. Rupanya ia jatuh dari kursi pesawat.
“ Kamu ini kenapa, Fer?” tanya teman-temannya, mereka mengerubungi Ferry dengan pandangan heran karena kiper itu tiba-tiba berteriak heboh saat tidur.
“ Di mana ini?” Ferry memijat-mijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pening.
“ Ya ampun, Fer!” celetuk Carlos,” you get a bad dream?” Lalu membantu Ferry bangun.
Couch Darmawan geleng-geleng kepala.” Ini akibatnya kalau kamu berlatih terlalu keras, Fer,” komentar pelatih itu setengah kesal dan setengah kasihan.
continued to part 2


Tidak ada komentar:
Posting Komentar