Powered By Blogger

Seach Blog

Rabu, 10 Juni 2009

Blue (da ba dee)


Yo listen up here's a story
About a little guy that lives in a blue world
And all day and all night and everything he sees
Is just blue like him inside and outside
Blue his house with a blue little window
And a blue corvette
And everything is blue for him and hisself
And everybody around
Cos he ain't got nobody to listen to

I'm blue da ba dee da ba die...

I have a blue house with a blue window.
Blue is the colour of all that I wear.
Blue are the streets and all the trees are too.
I have a girlfriend and she is so blue.
Blue are the people here that walk around,
Blue like my corvette, it's standing outside.
Blue are the words I say and what I think.
Blue are the feelings that live inside me.

I'm blue da ba dee da ba die...

I have a blue house with a blue window.
Blue is the colour of all that I wear.
Blue are the streets and all the trees are too.
I have a girlfriend and she is so blue.
Blue are the people here that walk around,
Blue like my corvette, it's standing outside.
Blue are the words I say and what I think.
Blue are the feelings that live inside me.

I'm blue da ba dee da ba die...

Inside and outside blue his house
With the blue little window and a blue corvette
And everything is blue for him and hisself
And everybody around cause he aint got
Nobody to listen to

I'm blue da ba dee da ba die...

I'm blue (if I was green I would die)


nah....
yang di atas tadi adalah lyric-nya blue da ba dee yg dinyanyikan grup eiffel 65 asal Italia
pernah juga jadi sountracknya film comedy big fat liar
clop bangetz!
emank deh lagunya antik banget
tapi gw suka banget lagu2 unik kayak gini
blue da ba dee da ba die!

Minggu, 31 Mei 2009

Unusual Warnet

Sekarang gw ada di warnet
Namanya apa gw lupa
pokoke gw ke sini krn diajak sepupu gw

Warnet ini agak lain dari yang lain
pz gw masuk ama sepupu gw
langsung di sambut sama dangdut remix dengan music-nya yang ala disko itu
di setel keras banget dan memekakkan telinga
trus ditambah lagi tempat ini remang-remang
Kaya warung remang-remang
This is terrible!!
and crazy!

Lalu krn bersebelahan langsung ama ruang permainan game
terdengar suara-suara ramai dari ruang itu
suara tembakan, teriakan, monster yang mengerikan
plus sorai-sorai misuh dari para pelanggan
bertebaran di sekitar telingaku

Ampun
kalo bukan karena harus nemeni sepupu gw nyari tugas
gw nggak bakal lama-lama di sini

Jumat, 29 Mei 2009

For Love Only (Part 2)


03.15 WIB


Bambang Pamungkas yang seperti sudah kita ketahui, biasa menyingkat namanya menjadi Bepe telah memakai seragam orangenya dengan rapi, lengkap dengan handband putih panjang di kedua sisi lengannya, handband biru khusus kapten di lengan kanannya dan pengaman di kedua kakinya.
Sambil mendengarkan alunan piano Mozart lewat mp3nya, ia berdiskusi dengan Pak Isman tentang formasi 4-2-2 yang akan mereka gunakan di pertandingan. Padahal sebenarnya sebenarnya mereka sedang membahas rencana busuk sambil sesekali main mata dengan pak Bajuri yang berada tak jauh dari mereka. Sementara pemain lain masih memakai atribut-atribut sepak bola mereka.


“ Ya’ pemirsa, sekarang kita sedang berada di ruang ganti pemain klub Persija. Di sini kita dapat melihat para pemain telah memakai seragam dan atribut mereka dan bersiap untuk menghadapi tim Sriwijaya F.C. ..”

Rupanya tadi adalah suara Anandya, wartawan wanita ANTV yang masuk bersama seorang kameramen, mengambil gambar di ruangan itu yang ditayangkan langsung secara nasional.

“ Sekarang kita akan mewawancarai Pak Isman Jasulmei, asisten pelatih Persija untuk mengetahui lebih jelas persiapan tim ini di sebelum beraksi di lapangan hijau,” Anandya menyorongkan mic-nya ke Pak Isman,” bagaimana Pak, bagaimana keadaan pemain anda saat ini?”
Pak Isman menjawab dengan tenang,” ya, seperti yang anda lihat saat ini. Para pemain Persija tampak fit untuk mengikuti pertandingan ini. Alhamdulillah untuk pemain andalan Persija tidak ada yang mengalami cedera serius, saya berharap kami akan tampil di lapangan dengan baik."
“ Ok Pak Isman. Anda tampak sangat yakin tim anda akan tampil dengan baik.”
Pak Isman mengangguk,” kami akan berusahan semaksimal mungkin dan yang menentukan hasil akhirnya nanti adalah yang di atas.”

“ Terima kasih pak Isman.., ya’ sekarang saya akan mewawancarai kapten tim Persija, Bambang “ Bepe” Pamungkas,”

Anandya menyapa Bepe dengan ramah,” selamat sore Bepe.”

“ Selamat sore,” jawab Bepe sambil melepas earphonenya. “Bepe ini tampak santai ya, padahal akan menghadapi sebuah pertandingan penting di Indonesian Super League.”
Bepe tertawa kecil mendengar pernyataan Anandya,” mungkin kelihatannya saja ya saya bersikap santai. Tapi memang setiap bertanding saya berusaha untuk santai saja agar pikiran saya jernih dalam bermain bola.”
“Bagaimana menurut Bepe hasil yang akan dicapai tim Persija nanti?”

“Saya yakin tim Persija akan menang karena memang kami telah melakukan persiapan yang matang. Saya yakin kami akan unggul dari Sriwijaya, Insya Allah.”

“Terima kasih banyak untuk Bepe dan semoga harapan anda terkabul.”
“ Pemirsa sekarang saya punya hadiah yang saya berikan kepada salah satu pemain Persija,” tim wartawan yg lain memberi Anandya satu paket obat Tripoten yang biasanya akan ia berikan kepada salah satu pemain bola. Sekalian untuk promosi obat kuat tersebut.

Sementara itu Bepe duduk di kursi ruang ganti dengan pikiran tenang. Ia sangat yakin timnya akan memenangkan pertandingan.


03.30 WIB

Matahari tampak bersinar terang. Sore itu adalah sore yang cerah. Di sebuah sisi lapangan tampak para pemain Sriwijaya F.C. sedang melakukan pemanasan.


Begitu juga Ferry, ia sedang melakukan pemanasan khusus pada kedua pergelangan tangannya yg nantinya akan menjadi juru pelindung gawang timnya.


Di sisi lain lapangan, ia memperhatikan Bambang Pamungkas yang terkenal dengan julukan pemain ber-killer insting serta teman duet maut striker itu, Alyudin, yang sedang mendengarkan instruksi terakhir dari asisten pelatih Isman Jasulmei.


Dari jauh Ferry melihat beberapa suporter wanita sudah standby di tribun bawah. Mereka tidak mau kalah dengan suporter pria Sriwijaya F.C., memakai atribut tim kesayangannya dengan lengkap dan tidak ketinggalan membentangkan poster bertuliskan “We Love Ferry Forever”. Mereka adalah pendukung setia kiper Sriwijaya itu. Yang selalu meneriakkan namanya dan menyorakinya ketika ia bertanding.

Memang Ferry Rotinsulu dianugerahi wajah yang tampan yang membuat kaum hawa jatuh hati padanya. Namun kali ini Ferry tidak peduli dengan para penggemarnya itu. Ia masih memikirkan masalahnya kegagalannya melamar gadis pujaan hatinya.


Stadion Lebak Bulus yang berkapasitas 12.500 orang itu tampak ramai dengan sorak-sorakan para suporter yang bersemangat mendukung tim kesayangannya. Mereka memakai atribut tim dukungannya seperti kaos, topi, syal, dan lain-lain.
Namun tribun penonton didominasi lautan suporter berbaju orange yang meneriakkan yel-yel Persija dan Jakmania sambil menenteng-nenteng boneka macan kebanggaan mereka.
Di berbagai sudut lapangan telah terpasang kamera stasiun swasta ANTV yang siap menyiarkan pertandingan semi final itu ke seluruh belahan Indonesia.

Saatnya tiba. Para anggota tim Sriwijaya F.C. dan tim Persija telah berbaris berdampingan. Mereka memasuki lapangan Lebak Bulus dengan dipimpin oleh wasit yang diikuti hakim garis dan beberapa pria yang membawa bentangan bendera Indonesian Super League.
Tim Sriwijaya dan Persija saling bersalaman. Kemudian mereka menempati tempatnya masing-masing.
Saat Ferry menempati gawangnya, penggemarnya yang merupakan kumpulan gadis-gadis remaja itu berteriak keras,”Ferry!Ferry!! I love you!” sambil mengibarkan poster mereka dengan penuh percaya diri.
Ferry membuang muka, acuh tak acuh. Tapi penggemarnya malah makin bersorak girang mengumandangkan namanya.

Sementara itu, Bambang Pamungkas telah berhadapan dengan Carlos Renato Elias. Wasit mengundi dengan koin. Ia melemparnya ke atas setelah masing-masing kapten memilih salah satu sisi koin itu.
“ Priit..!” benda kecil di mulut sang Wasit bersuara nyaring. Petandingan dimulai. Terdengar sorak-sorai para suporter makin bergemuruh keras.
Gendang telinga Ferry serasa mau pecah, namun pria itu sudah terbiasa.
Mereka para suporter melonjak-lonjak dan beberapa mengibarkan bendera berlambangkan Persija, tim kebanggaan mereka.


Mulanya benda bulat itu menggelinding di tengah lapangan, M. Ilham menendangnya ke arah Sriwijaya F.C. Bola malah diterima oleh Beben Barlian dan ia menendangnya ke arah Christian Worabay. Dengan sigap, Christian membawa bola itu melewati Alyudin dan Hamka Hamzah yang hendak menjepitnya.

Lari Christian cukup cepat, ia segera mengoper bola itu pada Benben yang sedari tadi mengawasi dari sisi lapangan yang lain.

“ Oper sini, Ben!” teriak Ambrizal sambil bersiap. Namun seorang M.Ilham meneklingnya dengan keras. Sehingga Ambrizal jatuh berguling-guling di tanah kesakitan Wasit meniupkan peluitnya dan langsung mengeluarkan kartu kuningnya pada M.Ilham. Sambil memegangi kakinya, Ambrizal berusaha bangkit. M.Ilham tampak membantunya berdiri.
Kelapangan hati merupakan kunci penghindar kericuhan di lapangan yang memang sering terjadi hampir di setiap pertandingan sepak bola Indonesia.


Tahu-tahu bola itu ada di kaki Bambang Pamungkas. Melihatnya, Ferry yang melihat dari kejauhan terlihat panik, jantungnya berdegup kencang. Dilihatnya striker itu membawa bola dan telah dekat ke kotak pinalti.
Carlos berusaha merebutnya, begitu juga dengan Zah Rahan.
Secepat kilat Benben menyambar bola itu dari kaki Bambang. Berhasil! kini bola itu menempel erat di kakinya.
“ Tendang bola menjauh!!” teriak Ferry memberi isyarat kepada Benben.
“ Ok, ok,” Benben menendang keras bola itu hingga melambung tinggi.
Namun Ismed Sofyan menanduk bola itu dengan kepalanya.

”Sial!!” gerutu para pemain Sriwijaya gemas.


Mereka heran, entah perhitungan matematis bagaimana yang Ismed pergunakan hingga benda bulat itu sampai ke tempat striker berambut gondrong yang telah berada di dalam kotak pinalti, dan Alyudin pun sama mengejutkannya dengan tangkas mengumpan bola itu ke arah juru eksekutor mereka yang telah menunggu di samping gawang.
Para pemain Sriwijaya tidak dapat mencegah atau merebut bola yang saling dioper antar pemain Persija.

Save the gate, Ferry!” teriak Carlos sekeras mungkin sambil berlari mencegah Bepe yang segera melakukan aksi tendangan pojok dengan kaki kirinya. Ferry mengambil ancang-ancang untuk menangkap bola. Ia melakukan semua itu sambil membayangkan wajah Annisa dalam-dalam.

Namun sesuatu terjadi pada tubuhnya. Kiper itu tidak dapat bergerak sama sekali!
Bambang menendang bola di kakinya dengan pasti ke arah gawang Sriwijaya. Ferry malah terlihat tidak berusaha menghalau bola. Ia membiarkan bola itu meluncur dengan leluasa menembus gawangnya.

Dan Gol! Bepe langsung bersorak dan langsung disambut dengan pelukan dari teman-temannya. Mereka bersorak gembira meneriakkan nama Persija.
Tentu saja para suporter yang bagai lautan orange itu makin bergemuruh, ramai meneriakkan yel-yel kemenangan mereka.


Namun tiba-tiba wasit meniupkan peluitnya. Rupanya sang wasit menganulir gol yang baru saja dicetak Bepe.
Suporter Persija yang semula bersorak berbalik memaki sang wasit. Mereka mengamuk! Melempari wasit dan para pemain Sriwijaya dengan botol aqua, batu, dan air kencing. Para aparat keamanan di stadion itu langsung bertindang mengamankan amukan penonton. Beruntung jumlah aparat yang dikerahkan cukup banyak sehingga aksi anarkis tersebut dapat segera diredam. Sementara itu di deretan bangku official Persija, Pak Bajuri si menejer Persija memandang lapangan dengan geram.

” Sial!” maki Pak Bajuri,” rupanya mereka menyuap wasit.”

Badan Ferry yang tadi kaku langsung lemas. Ia terduduk di tanah sambil menahan darah yang tiba-tiba keluar dari hidungnya. Darah itu menetes tanpa henti.

Couch Darmawan meminta timeout pada wasit. Ia memanggil tim medis untuk segera menolong Ferry.

” Kamu kenapa Fer?” tanya Pelatih Sriwijaya itu prihatin.
Kiper itu kini menahan darah yang keluar dari hidungnya dengan kapas yang disediakan tim medis.” Saya nggak tahu, Pak. Sebelumnya saya tidak pernah begini.”
” Sebaiknya saya mengeluarkan kamu saja.”
” Jangan, Pak!” ucap Ferry memohon,” saya masih bisa meneruskan pertandingan.”
” Kamu jangan memaksakan diri, Fer, hanya demi bonus dan gadis itu,” ujar Couch Darmawan.
” Dia harus melakukannya Pak,” ucap Pak Marwan yang tiba-tiba berada di belakang Couch Darmawan.
Couch Darmawan menggelang,” kalian gila ya? Mimisan itu bukan hal sepele!”
” Pak, kalau dia benar-benar mentok tidak kuat lagi, baru kita keluarkan dari pertandingan,” saran Pak Marwan.
” Iya, saya memang masih bisa melanjutkannya, Pak.” Ferry berusaha berdiri.
” Baiklah...,” Pelatih Darmawan mengalah.

Pertandingan pun dimulai kembali. Sementara darah yang mengalir dari hidung Ferry sudah berhenti, namun sebenarnya kiper itu masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya.

Sepertinya mereka melakukan sesuatu padaku, batin Ferry memandang deretan manajer dan official Persija
Ia tidak dapat berbuat apa-apa selain tetap konsentrasi mengikuti arah bola. Namun tiba-tiba kiper itu merasa pandangan matanya berkunang. Langkahnya terhuyung. Ferry mencoba berpegangan pada tiang. Couch Darmawan yang memperhatikan kondisi Ferry itu hendak menghampirinya. Ferry tidak kuat lagi. Sebelum pelatihnya meminta timeout, tubuh Ferry telah ambruk ke tanah. Dan semua menjadi gelap...
***

” Brak!!” terdengar benturan keras mengenai TV kamar VIP di rumah sakit Dr.Cipto Mangunkusumo. Rupanya ada seorang pasien yang melempar remote ke TV kamarnya.
Dua hal yang paling kiper Sriwijaya itu benci. Rumah sakit dan kekalahan timnya dalam kompetisi sepak bola. Dan keduanya menghampirinya bersamaan. Ferry menenggelamkan kepalanya di antara kedua pahanya. Hatinya semakin panas mendengar sorak-sorakan kemenangan Persija. Ia marah! Semua ini tidak adil! Harusnya Sriwijaya yang bersorak. Harusnya kini ia yang mengangkat piala ISL tinggi-tinggi. Dan harusnya ia yang menerima uang 75 juta itu, ditambah tabungannya. Kemudian keesokan harinya ia langsung pergi ke rumah keluarga Maulana dan langsung melamar Annisa. Namun semua itu tidak terjadi. Ia masih berbaring di kamar rumah sakit tanpa bisa berbuat apapun.
***

Beberapa hari kemudian...

Aroma roti panggang dan cappuchino panas yang segar tidak menggetarkan selera makannya. Ia masih termenung memandangi meja marmer Cafe Dennies’s di hadapannya dengan hati galau.


Akhirnya lamunannya terpecah oleh kehadiran sosok seorang gadis manis berkulit putih yang telah duduk dihadapannya. Gadis itu tersenyum penuh kehangatan.

” Hay, Fer, kamu tahu nggak betapa susahnya ketemu kamu di sini?” suara renyah keluar dari mulut gadis itu,” habis kamu telpon aku langsung mencari cara untuk ke sini.”
” Say...,” Ferry berhenti untuk menghela nafas,” ayahmu sampe ngelarang ketemu aku. Aku benar-benar sudah gagal, Nis.”

Anissa menggenggam tangan Ferry,” Fer, aku sudah lihat semuanya di TV. Kamu berlatih keras banget ya sampai jatuh pingsan gitu.”

” Ini demi kamu....”
” Aduh, Fer sayang, wajahmu pucat. Kamu sakit ya?”
” Nis, trus gimana lagi. Nggak ada jalan lain.”

Mereka berdua terdiam sejenak. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


” Fer, aku punya tabungan di rekening. Tapi nilainya setengah dari jumlah persyaratan Papa, jumlah tabunganku 300 juta, hasil dari bisnis butikku,” ujar Annisa,” mungkin sisanya kamu bisa cari pinjaman ke temen-temenmu atau saudaramu.”

Ferry memainkan sendok kopinya. Ia sebenarnya tidak ingin Annisa ikut-ikutan menyumbang uangnya sendiri. Di mana harga dirinya?

” Baiklah, Nis. Aku akan berusaha mencari uang itu,” kata Ferry akhirnya.
Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa dan memandang gadis itu penuh tekad,” aku janji, Sayang. Aku akan memenuhi pernyaratan ayahmu dan pernikahan kita akan segera berlangsung.”

Annisa mengangguk.

” Aku yakin dapat memenuhi persyaratan ayahmu, Nis karena kita ditakdirkan bersama,” ujar Ferry lagi semakin erat menggenggam tangan kekasihnya.

” Aku akan setia menunggumu. Aku akan terus menunggumu Fer. Aku yakin kamu bisa melalui ujian ini,” janji Annisa.
Akhirnya sepasang kekasih itu meninggalkan Cafe dengan perasaan lega.
Meskipun masalah mereka belum tuntas. Namun mereka yakin ini semua akan segera berakhir.


Ferry memilih kembali ke asramanya. Sesampainya di sana, beberapa anggota timnya seperti Dede Sulaiman, Carlos Renato Elias, dan Firmansyah, sudah berkemas-kemas hendak pulang ke kampung halaman, mengisi waktu libur selama 3 minggu penuh.
Setelah menyapa teman-temannya ia langsung menuju kamarnya sendiri dan membaringkan diri ke tempat tidur.


” Kamu nggak pulang ke Palu, Fer?” sebuah suara cukup mengegetkannya.
Ternyata itu Ambrizal, gelandang tengah tim Sriwijaya yang cukup akrab dengannya.

Ferry hanya menggeleng.
” Fer, bukannya aku ikut campur. Tapi gimana masalahmu dengan keluarga Annisa Katarima itu, udah beres?”
Sekali lagi Ferry menggeleng. Ambrizal jadi kasihan melihat kawannya berwajah suntuk dan tak bergairah.
Memang belakangan ini Ferry yang dikenal sebagai pemuda yg ramah dan ceria berubah menjadi pemurung. Mungkin masalah yang ia derita sangat berat.


” Aku cuma nawarin ya, aku bisa minjemin 50 juta, tabungan sertifikat tanah Abah yg nyampe sekarang nganggur. Mungkin bisa sedikit membantu dan kamu bisa ngembaliin kapan aja, gimana?” tawar Ambrizal.
” Maaf, Zal,” akhirnya keluar juga suara kiper itu,” aku nggak pingin ndapetin uang pernikahanku dengan hutang sana-sini. Itupun belum tentu aku bisa ngembaliin.”
Ferry membalikkan badan membelakangi Ambrizal. Dipandanginya cercahan sinar matahari siang yang masuk melalui jendela kamarnya. Sisa waktu persyaratan pernikahannya tinggal 1 minggu lagi dan dalam waktu dekat ini belum ada pertandingan lagi!

Cercahan sinar itu... ,entah mengapa cercahan sinar kekuningan itu mengingatkannya akan masa lalu, keluarganya di Palu, dan...
” Oh iya!” seru Ferry tiba-tiba.

Ambrizal ikut terlonjak kaget.” Apaan sih, Fer?"

Sebenarnya sudah beberapa hari ini ide itu datang dan pergi dari otaknya. Namun tak ada salahnya kalau kali ini ia mencobanya.
” Aku punya ide untuk mendapatkan uang 1 milyar itu,” Ferry langsung beranjak dari tempat tidurnya kemudian memakai jaket dan topinya,” aku pergi dulu yah. Kalo Couch Darmawan nyari suruh ngubungin hapeku.”

” I...iya deh,” jawab Ambrizal dengan heran. Ferry keluar dari asramanya dan mengendarai motor, menyusuri jalan menuju daerah pinggir kota Palembang. Tepatnya ke sebuah perumahan elit Sriwijaya Residence. Ia yakin inilah satu-satunyanya jalan keluarnya dari masalahnya.
***

” Babi ngesot belum beranjak. Ya, hm, ia masih berputar-putar di lantai 2 mal,” lapor Ferdy sambil memperhatikan lokasi GPS sasarannya dari komputer.

"Baik! Laporkan terus ke mana saja Babi ngesot bergerak,” balas suara di earphone Ferdy. Ferdy menurutinya. Ia memperhatikan setiap gerakan Babi ngesot. Sasarannya itu sepertinya hendak pergi ke gerai handphone namun akhirnya malah memasuki sebuah restoran Jepang dan tetap diam di sana.

” Erdy, kamu nggak jadi kan pergi ke Hongkong?” terdengar suara manja dari seorang pria bule di atas tempat tidur. Bisa dibilang setengah telanjang, satu-satunya kain di tubuhnya hanyalah boxernya yang tipis. Matanya yang biru memperhatikan Ferdy yg sedang bekerja.

” Kamu kan udah aku jelasin, Dave!” jawab Ferdy setengah sewot. Dilihatnya GPS Babi ngesot tetap diam di restoran Jepang, sepertinya ia sedang makan.
So you will leave me?” tanya Dave yang bernama lengkap David itu tidak percaya,” please, Erdy, don’t do that.”

Ferdy menyalakan rokok, menghisap dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke layar notebook. Sebenarnya ia mulai muak dengan tingkah manja David.

Dy, you don’t pick me up?” Dave memandang Ferdy kesal.

Ferdy menggeleng dengan wajah datar tanpa ekspresi

How dare you, Dy!” David mulai sesenggukan,” okay. If you won’t me, I can find the other man.”
Ferdy diam saja sambil terus menghisap rokoknya, membiarkan David mengoceh sendiri.
You hear me Dy? You’re cruel man. You can’t do this. You...

” Ssst!!” Ferdy langsung memotong ocehan David. Ia melihat Babi ngesot keluar dari restaurant Jepang. Dan terus bergerak menuju eskalator.

” Babi ngesot turun ke lantai 1, ia turun lewat eskalator” Ferdy langsung melapor ke pimpinan tim eksekutornya,” pergerakannya cepat, fokus, pergerakannya lebih cepat.”

Kemudian Ferdy langsung membuka hubungannya dengan regu eksekutor BN1 di lantai 1,” Justine, posisi Babi ngesot tepat di tengah. Ia masih bergerak.”
Babi ngesot menuju wartel yang terletak di pojok lantai dasar mal itu. Dengan sigap Ferdy melempar headset penyadap telponnya ke David,” dengarkan pembicaraan Babi itu Dave. Nyalakan juga alat perekamnya.”
I know, I know,” gumam David yang masih merasa belum menumpahkan semua kekesalannya pada Ferdy.

"Sadap telpon Babi ngesot,” perintah Justine.

” Sedang kulakukan,” jawab Ferdy.
Selama beberapa detik semua orang menuggu laporan David. How Dave?” tanya Ferdy tak sabar.
David melempar kertas. Ferdy membacanya.
Ternyata Babi ngesot sedang menelpon keluarganya.
Ferdy meneruskan laporan hasil penyadapan kepada Justine.
” Okey, kami akan melakukannya,” ujar Justine. Ia telah mempersiapkan sniper BN1 di tempat yang tepat.
Beberapa saat kemudian David yang sedang menyadap telepon langsung melepas headsetnya,” mereka telah membunuhnya. Actually they musn’t do that when he call his family.”


Tapi Ferdy tidak peduli. Tugasnya hanya satu, yaitu membunuh target yg telah diberikan bos dan itu baru saja selesai dilakukannya.


” Ting tong! Ting tong! Ting tong!” tiba-tiba terdengar suara bel yang dibunyikan berulang-ulang kali.

Ferdy langsung beranjak dr tempat duduk dan mengaktifkan layar kamera pengawas gerbang rumahnya yg menempel di dinding kamar untuk mengetahui rupa tamu yang datang. Matanya memicing.
” Haa..!” Ferdy terkejut,” dia, ngapain anak itu kesini?” Rupanya ia mengenal tamu itu meskipun sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengannya.

” Siapa tamu itu, Dy?” tanya David penasaran.
” Tamu tak diundang,” jawab Ferdy sambil keluar dari kamar,” aku akan segera mengusirnya!”

Ferdy pergi ke kamar yang dikhususkan untuk baju-bajunya. Ia mengganti baju handuk yang sedari tadi ia kenakan dengan kemaja putih dan celana jeans, kemudian turun ke lantai dasar lewat lift.

Di lantai dasar terdapat lobi yang mewah layaknya lobi hotel.

” Mike! Gustav!” panggil Ferdy kepada dua bodyguardnya.
Kedua pria berbadan besar dan tinggi itu memenuhi panggilan tuannya. Wajah mereka selalu berekspresi datar penuh ancaman.
” Jemput orang itu, antarkan ia sampai ruang tamuku,” perintah Ferdy.
Keduanya mengangguk patuh.

continued to part 3

Mencari Oase Hati


Beberapa minggu ini dia merasa gersang

hatinya kering seperti pasir gurun

yang bila tertiup angin menusuk-nusuk mata

menyesakkan nafasnya

dia hanyut dalam kebingungan

dan rasa penasaran yang meletup-letup


dia pun memutuskan mencari “Sesuatu”

yang bisa menyiram kegersangan itu

“Sesuatu” yang ia cari bukan asmara anak Adam dan Hawa

bukan hartanya yang berlimpah, rumahnya yang bak istana

atau tahtanya sebagai penguasa sebuah negri

“Sesuatu” itu juga bukan candu nikotin dan alkohol


ia butuh kebahagiaan dan kedamaian sejati


ia kini masih mencari “Sesuatu”

di antara setiap sudut rumah mewahnya

di antara perabotan ruang kerjanya

ia banting kemudi mobil menyusuri jalanan

mencari di pasar, di kantor, gedung pemerintah


ia menengadah

mencari di antara langit bergemintang

tapi hasilnya nihil!

ia tidak menemukan “Sesuatu”


sampai Tuhan menghargai usaha kerasnya untuk mencari “Sesuatu”

Tuhan menunjukkan jalan sebelum ia bosan mencari

sebelum hatinya mati karena penasaran


ia pun tergugu mendapati “Sesuatu” itu

luar biasa di atas ambang pikirannya


"Sesuatu" itu adalah Tuhannya sendiri


Betapa selama ini dia rindu akan Tuhan di hatinya

ia ingin sujud menyembah-Nya

mengagungkan nama Penciptanya


Di dalam gurun pasir yang gersang

ia bak menemukan oase

yang ia rengguk sepuas-puasnya

agar kekeringan hatinya sirna



Kamis, 28 Mei 2009

Crazy Day at Day Two

Hi, you guys!
I'll tell you something
This is my crazy day at two days

Gini ceritanya (udahan ah bahasa Inggrisnya)
Sebenarnya crazio day-nya udah sejak kemarin
Hal Muslihalnya berawal dari ide my parents
Suami-beristri (maksudnya bonyok gw) itu emang kompak banget
Ngerti gw nggak ada kerjaan karena masih nunggu pengumuman UNAS SMA tanggal 15 Juni nanti
gw diomelin coz di rumah kagak ada kerjaan
a.k.a makan-tidur aja kerjaannya

Jadilah gw disuruh magang di Kindegarten-nya nyokap yg bernama Insan Kamil
di TK itu juga ada playgroup-nya
Weleh-weleh...
mereka nggak ngerti apa kalo gw nggak bakat jd guru TK, apalagi playgroup!

Selama 2 hari ini gw mengalami hari yg gila en' berat
Ini beberapa personel Insan Kamil playgroup yg udh gw kenal:
  • Icha- anaknya gendut, lucu, montok, suka berlagak malu-malu kucing
  • Kahlil- anak cowok yg ganteng, lucu (semua anak playgroup lucu-lucu), plus ramah. Awalnya gw penasaran siapa ortunya. Akhirnya gw ngeliat pz bapaknya njemput. Ternyata Kahlil dihasilkan oleh bapak yg ganteng pula
  • Tya- anak cewek endel tapi cantik dan putih, imoet bgt
  • Salim- aktif dan rame
  • Naswan- anak tetangga gw yg cute tapi agak antik
  • Fian- anak cowok yg ramah tapi endel. Sumpah tuh anak cowok aneh banget. Di hari kedua gw dia lenggak-lenggok di depan temennya kayak pragawati trus nyium pipi temennya yg cewek. Wah, sinetron bener nih.
untung ada Bu Ima yg bijaksana
Fian diberi pengertian kalo nggak boleh nyium pipi temen ceweknya karena bukan mahram
Fian bolehnya nyium pipi mama, adek, dan kakak
anak itupun manut

truz...masih banyak personel playgroup itu
tp gw lupa namanya
jumlah semuanya sih kira-kira 20 anak

Jreng...jreng!
ada satu anak lagi yg belum gw sebutkan
belum gw sebutkan aja udah bikin merindinng
Yapz!
anak cowok ini nakal banget! ngetz! ngetz!
namanya Ariq
- dia super hyperaktif, nggak sopan, and suka njahilin orang
Fiuh...
gw pingin my hell day over tiap ketemu dia
setiap Ariq nakal
gw pingin ngamuk-ngamuk aja
sempat gw berpikir untuk mengikat aja tuh anak pake tali biar nggak bisa gerak
ku ingin menampar mulutnya yg kurang asem
lalu kalo bisa memenjarakan monster kecil itu di penjara Nusakambangan
ato penjara Guantanamo sekalian
Bweh...kejem banget yah gw
sabar Angel...sabar girl...

Iya! Gw tahu ngadepi anak kecil itu musti sabar
karena tuntutan profesi tentunya
be patient girl
God only with you...

They Wish He Die

" Itu saja?" ujarnya lemah, hampir menyerupai bisikan," kalian akan meninggalkanku di sini?"
Pria-pria itu hanya diam, memandanginya dengan tatapan dingin tanpa ekspresi. Dalam kegelapan hutan, terlihat senyum sinis salah satu dari pria-pria itu, ditunjukkan padanya yang terduduk tak berdaya, dalam balutan jas yang kotor penuh darah.
Merek tidak mengangguk atau menggeleng meski ia menengadah kepada mereka dengan pandangan memohon. Percuma. Tidak akan ada ampunan.
Salah satu dari pria-pria dingin itu yang dulu temannya, patner kerjanya yg terikat dalam suatu sumpah setia organisasi, menaruh sebuah kamera tepat di depannya. Kemudian menyeringai senang.
" Kau tahu apa fungsinya ini, Collins?"
Dia hanya diam, masih dalam posisinya yang duduk dan bersandar pada sebuah pohon. Di sanalah sejak awal ia ditempatkan. Dikatupkannya bibirnya dengan rapat. Matanya memancarkan kebencian atas 10 jam penyiksaan yg telah mereka lakukan padanya karena pengkhianatannya pada organisasi
" Akan ada pertunjukan menarik, Collins," ujar pria yg lain," beraktinglah dengan bagus sebelum menemui ajalmu."
Setelah puas menyaksikan persiapan kematiannya, pria-pria itu segera meninggalkan tempat tersebut. Semakin jauh, hingga hilang ditelan kegelapan dan rimbunnya pohon di hutan itu

Suara-suara penghuni hutan dan hewan-hewan malam mulai terdengar. Namun hutan itu tetap sunyi dan gelap.
Dia menatap kamera yang tegak tepat di depannya. Membayangkan bos dan teman-temannya duduk dengan nyaman di markas ditemani segelas kopi hangat sedang menonton kematiannya, masing-masing bertaruh seberapa cepat ia bertahan di hutan.
Dia mencoba menggerakkan tubuhnya. Ia mendesis kesakitan.
Rasa ngilu dan perih tiba-tiba menyerang sekujur tubuhnya. Kesakitan terus merambat hingga tulang-tulangnya juga sukar digerakkan.
Ia mencoba lagi.
Namun hal itu sia-sia saja. Terlalu banyak luka yang ditanggung badannya
Dari balik jasnya, kemejanya, celana panjang, dan sepatu pantofelnya....
Sepertinya tidak dapat disebut sebagai tubuh lagi.

Kini dalam pikirannya terlintas banyak hal. Termasuk ulangtahunnya besok yang ke-25
***

For Love Only (Part 1)

Sebelum saya menulis kisah ini.
Saya hanya ingin menjelaskan bahwa cerita ini hanya fiksi semata.
Jadi, jika ada kecocokan nama, tempat, dan jalan cerita, saya mohon si empunya tidak tersinggung karena sekali lagi ini hanya fiksi.



Langit senja tampak jingga kemerah-merahan. Bola api raksasa yang sudah seharian menyinari bumi semakin lama semakin terbenam membuat langit yang ditinggalkan semakin gelap. Sisa-sisa warna merah jingga yang masih ada tampak indah dan menawan. Hal itulah yg terjadi saat ini di langit Stadion Jakabaring.

“ Fer! Jangan loyo donk. Ayo tangkap lagi!” seru Pak Marwan, pelatih khusus di tim Sriwijaya F.C. yang sedang melatih tangkapan anak asuhnya untuk partai final minggu depan.

Nafas Ferry Rotinsulu, kiper andalan tim itu sudah ngos-ngosan. Peluh bercucuran di seluruh tubuhnya membuat dia basah kuyub. Pada saat itulah langit senja dengan semburat jingganya yang harusnya menawan tidak membuat sang kiper bahagia sama sekali.

“ Pak…,please, Pak. Saya sudah pegel nih,” Ferry memohon agar latihan disudahi saja. Sedangkan teman-teman timnya yang lain sudah menghilang dari lapangan. Hanya ia satu-satunya pemain yang masih latihan di sore itu.

Pak Marwan mengecek jam tangannya,” belum belum. Lima menit lagi baru kamu boleh istirahat. Lanjut!”

“ Pak…,” Ferry merengek.

Couch Rahmat Darmawan, sang kepala pelatih, sudah menenteng tasnya hendak pulang. Ia berhenti sebentar memperhatikan Pak Marwan yang getol melatih Ferry.

” Pak Marwan, sebaiknya dia istirahat. Saya takut dia drop saat pertandingan.”

Namun Pak Marwan tetap kukuh pada pendirian,” Ini semua demi cinta Ferry, Pak. Dia harus melakukannya!”

Pak Marwan memandang mata Ferry dalam,” kamu harus memperjuangkannya, demi dia, Fer. Demi dia…”

Mendengar itu, Ferry terpaksa menurutinya. Ia langsung bangkit seolah-olah baru saja mendapat suntikan tenaga baru,” Iya, Couch. Saya masih kuat latihan.”

“ Baiklah, terserah kamu saja,” akhirnya Couch Darmawan mengalah,” pokoknya saya tidak mau mendengar kamu sakit sebelum pertandingan.”

Ferry mengangguk mantap. Couch Darmawan pun meninggalkan mereka berdua yang melanjutkan latihan terakhir.

Akhirnya saat adzan magrib berkumandang, latihan berakhir. Tubuh Ferry langsung ambruk ke tanah berumput di lapangan itu, dia berbaring tengkurap kehabisan tenaga.

Pak Marwan menarik anak asuhnya yang akhirnya bangkit dengan sempoyongan. Sang pelatih memapah Ferry ke pinggir lapangan.

Suasana lapangan stadion remang-remang karena hanya disinari oleh beberapa lampu di sudut stadion. Ferry meneguk air mineralnya dan berbaring di rumput kelelahan.

“ Fer…,” panggil pak Marwan

“ Hmm…,” gumam Ferry menyahut.

“ Kamu tahu kenapa Bapak melatih kamu seperti ini?”

“ Ya, biar tim kita menang, Pak. Dapat bonus dan aku bisa ngelamar…,” Ferry terdiam sejenak. Ia mengelus-elus kalung liontin berbentuk hatinya, kemudian membukanya. Di dalam liontin itu ada foto seorang gadis cantik nan menawan. Dipandanginya foto itu dengan seksama,” Annisa…”

Pak Marwan tersenyum kebapakan,” Begitulah, Fer. Saya ingin kamu menikah dengan orang yg kamu cintai. Jangan seperti saya,”

akhirnya Pak Marwan menceritakan masa lalunya,” waktu muda dulu, ya seumuran kamu gitu. Saya pernah mencintai seorang gadis Palembang bernama Melani. Kami lama menjalin ikatan cinta sampai akhirnya saya memutuskan untuk melamarnya.”

“ Trus, Pak?” tanya Ferry penuh antusias.

“ Saya datang ke rumah gadis itu, saya juga bawa orangtua saya jauh2 dari Semarang. Pokoknya saya sudah siapin semuanya. Namun ternyata orangtua Melani menolak saya dengan alasan saya bukan keturunan darah biru, sedangkan Melani berasal dari keturunan bangsawan keraton Sriwijaya.”

“ Ya sudah, saya tidak bisa berbuat apa-apa karena ayah Melani sangat keras kepala. Saya pun pasrah dengan penolakan tersebut. Tapi, Fer, akhirnya saya…hu hu hu,” tak disangka Pak Marwan terisak, air mata yg mengalir di pipinya. Ferry mengelus-elus punggung pelatihnya mencoba menenangkan,” akhirnya saya menyesal. Gadis yg kucintai itupun menikah dgn keturunan keraton yg ternyata pengusaha diskotik dan pelacuran. Ia menjadikan Melani sebagai pelacur yg melayani nafsu bejat lelaki hidung belang. Kemudian akhirnya Melani bunuh diri. Ia melakukannya krn tidak tahan dgn pekerjaan haram dan suaminya yg kasar.”

Pak Marwan terisak lagi. Ferry merangkul bahunya,” sudahlah, Pak. Ini bukan sepenuhnya salah Bapak. Mungkin ini sudah takdir Yang diatas. Bapak jgn nagis ya.”

“ Fer, andai saja saya mau berusaha menikahinya, berusaha lebih keras untuk mempengaruhi ayah Melani. Dia pasti tidak akan hidup sengsara seperti itu,” Pak Marwan menghapus air mata dan ingusnya,” makanya Fer, kamu harus perjuangkan cintamu dengan Annisa. Saya tahu kamu pria baik-baik, begitu juga dengan Nisa. Kalian pasti akan menjadi pasangan yg bahagia.”

Ferry mengangguk. Ini masih harapannya untuk mendapatkan Annisa. Bisakah ia melakukannya?

“ Heh…, saya merasa lega deh udah bercerita ke kamu. Saya harap 3 minggu lagi kamu berhasil melamar Nisa. Yuk, Fer, kita shalat magrib dulu.” Pak Marwan bangkit diikuti Ferry. Mereka berdua berjalan beriringan keluar dr stadion.



5 Hari yang Lalu

“ Hm…, jadi kamu ingin menikahi anak saya, begitu?”

“ Iya, Pak. Saya sudah mempersiapkannya,” jawab Ferry penuh keyakinan.

“ Pak Maulana, saya berharap anda mau merestui hubungan putra kami dengan putri Bapak yg nantinya akan berlanjut ke jenjang pernikahan,” tambah Ayah Ferry.

Pak Maulana yg bernama lengkap Andri Maulana itu memandang kedua orangtua Ferry dgn pandangan datar.

“ Saya akan menerima lamaran nak Ferry, tapi,” Pak Maulana berhenti sejenak,” anda semua harus menyediakan mahar perhiasan emas senilai 50 juta dan biaya pernikahan sebesar 1 milyar.”

Ferry menaikkan kedua alisnya terkejut. Ia tidak menyangka calon mertuanya akan berlaku demikian.

Ayah Ferry berusaha tetap tenang,” Maaf, Pak Maulana. Saya harap anda mengerti. Pernikahan itu tidak dinilai dari berapa biaya yg dikeluarkan, tapi dari ikatan suci yg mereka buat, masa depan yg menanti mereka. Saya mohon agar anda menurunkan nilai mahar yg terlalu membebani kami ini. Lagipula mereka sudah lama berpacaran, suka sama suka, Pak. Rencana pernikahan ini juga rencana mereka sendiri, orangtua tidak bisa memaksa.”

Maulana mendengus,” Saya sudah tahu nak Ferry sudah lama berpacaran dengan Nisa. Dan saya tidak bilang kalau tidak merestui hubungan itu. Cuma kalau soal pernikahan, anda semua harus mengikuti ketentuan kami sebagai keluarga keraton Sriwijaya.”

Kedua orangtua Ferry terdiam. Sementara Pak Marwan yg pada waktu itu libur dan ikut menyertai Ferry memandang Pak Andri Maulana geram.

“ Mungkin kalau anda tidak dpt memenuhi syarat saya ya…saya sudah punya calon lain,” tambah Pak Maulana memanas-manasi.

“ Kami bisa kok Pak memenuhi syarat pernikahan itu,” cetus Pak Marwan tiba2. Kedua orangtua Ferry nampak terkejut.

“ Oh ya?”

“ Tentu, Pak. Kalau soal mahar dan biaya pernikahan itu, anak asuh saya ini bisa memenuhinya. Tapi beri kami waktu 3 minggu untuk mempersiapkan semuanya. Mahar dan biaya pernikahan ada dihadapan Bapak hasil dari keringat Ferry sendiri.”

Orangtua Ferry berpandang-pandangan ragu. Begitu juga dengan Ferry.

“ Baiklah,” akhirnya Pak Maulana setuju,” kalau syarat saya sudah terpenuhi. Kita akan mengadakan pernikahan putri saya dengan nak Ferry.”

Seingat Ferry endingnya seperti itu. Ferry, orangtuanya dan Pak Marwan pun pamit pulang. Orangtua Ferry sudah angkat tangan dengan rencana melamar Annisa, putri keluarga Maulana itu.

Tapi Pak Marwan menyatakan bahwa uang bonus memenangkan kompetisi Indonesian Super League dan juara pemain terbaiknya akan mencapai syarat yg dipatok Andri Maulanan.

***


Seorang pria berumur 28 tahun berlari mengitari lapangan stadion Lebak Bulus, diikuti beberapa orang anggota timnya.

Setelah itu ia melakukan sedikit pemanasan pada bagian pinggang dan bahunya. Sinar matahari tampak menyambar-nyambar, tapi tim itu tetap semangat berlatih.

Beberapa orang manajer persija memasang orang-orangan dari papan di depan gawang.

“ Bambang, cobalah tendangan pinaltimu!” seru Isman Jasulmei, asisten pelatih tim Persija.

Bambang Pamungkas, alias bepe, striker andalan persija itu mengambil posisi di tengah lapangan, bola sudah ada di kakinya.

Matanya tampak tajam memandang gawang di depannya. Ia segera menendang dgn perkiraan yg tepat. Bola melambung melewati papan-papan orang-orangan di depan gawang dan masuk ke gawang, namun tidak sampai menyentuh rajutan tali.

“ Tendanganmu kurang keras Bam,” ujar Pelatih Isman sabar.

Bambang mengoper bolanya kepada Agus Indra. Dgn gesit Agus menerimanya dan kali ini dia yang akan melakukan tendangan pinalty. Ia menendang dgn gerakan yg terlatih. Lambungan bolanya tinggi, namun tepat sekali masuk ke arah gawang dan menghantam rajutan tali putih di gawang itu.

Pelatih Isman bertepuk tangan senang, “ Bagus Indra, bagus. Pertahankanlah tendanganmu itu!”

“ Pak Isman,” Bepe tampak mendekati pria paruh baya itu.

“Ada apa, Bam?”

Dengan setengah berbisik Bepe mendekatkan wajahnya seperti akan membicarakan sesuatu yang sangat rahasia,” kiper Sriwijaya itu Pak, sudah disiapkan?”

Pelatih Isman membuang muka, tapi ia tetap menjawab pertanyaan Bepe,” kamu tenang saja Bam, semua itu sudah disiapkan oleh pak Menejer.”

“ Saya kan pingin tahu pak, yang mana yg akan dijadikan titik kelemahan dia.”

“ Ya, kalau nego dengan yang dimintain tolong sudah beres, pasti saya kasih tahu,” jawab Pelatih Isman datar

Namun akhirnya pelatih itu menyeringai penuh kelicikan,” Ahh, sudahlah, sekarang kamu kembali berlatih saja!”

Bepe membalas seringai licik Pelatih Isman. Mereka berdua tampak seperti dua serigala jahat yang bersiap menerkan mangsanya.

“ Okey, Pak!” Bepe berlari ke tengah lapangan, kemudian berlatih oper bola bersama teman-teman timnya.

***


Peniggaran

“ Bagaimana mbah, apakah mbah sudah menentukan akan memakai guna-guna apa?” ujar pak Bajuri yang berusaha tetap kalem dan sopan.

Mbah Slamet, pria sepuh yg berasal dari Solo itu tampak mengangguk-angguk, ia mengelus janggut panjangnya yg sudah beruban. Di depannya mengepul asap putih aroma kemenyan. Mbah Slamet menggenggam untaian kalung dgn biji-biji persegi dari batu hitam berkilauan. Ia terus mengangguk-angguk khitmad.

Pak Bajuri menelan ludah, ia menabahkan dirinya karena telah mendengar pamor mbah Slamet yg dikenal sebagai dukun asli yg kawakan. Profilnya saja pernah masuk majalah “Liberty”, majalah tentang dunia mistik yg paling populer di kota Jakarta. Pokoknya bukan sembarang dukunlah! Hal itu harus dia bayar mahal dgn duduk tahan berlama-lama di sebuah ruang remang-remang dgn seorang pria tua yang mengerikan.

Kini mulut mbah Slamet mendengung-dengung spt lebah, membaca sebuah mantra. Ia menaruh sebuah pot tembikar dan mengisinya dengan beberapa bahan-bahan yg aneh. Pak Bajuri tampak kaget ketika pria tua itu memasukkan benda panjang berwarna coklat spt ari-ari bayi yg baru lahir.

Kemudian mbah Slamet menyiram bahan-bahan tadi dengan cairan aneh, menyalakan api, dan membakarnya. Kali ini menguar bau yg lebih menusuk dr aroma kemenyan yg sudah sedari tadi mengepul di ruangan sempit tersebut.

“ Mana foto orang itu…,” suara mbah Slamet yg serak sempat mengagetkan pak Bajuri, namun pria setengah baya tersebut langsung mengatur nafasnya, berusaha tetap tenang.

Dengan sedikit bergetar, pak Bajuri menyerahkan foto seorang pria muda ke tangan mbah Slamet. Oleh si dukun, foto tersebut diasapi dan kembali terdengar mantra-mantra tidak jelas meluncur dr mulutnya.

Sekitar dua menit kemudian, ritual itupun berakhir

“ Nanti sore..,” gumam mbah Slamet.

“ I..iya..,mbah.”

“ Ya.., nanti sore prajurit-prajurit itu akan datang.”

Tiba-tiba mbah Slamet menatap pak Bajuri tajam sehingga pria paruh baya itu hrs menahan nafas dan jantungnya yg berdegup kencang.

“ Saya sudah membuat perjanjian dgn prajurit-prajurit di pantai selatan..,” lanjut mbah Slamet,” para pengawal Nyi Roro Kidul.”

Bola mata mbah Slamet menghilang! Dari matanya hanya terlihat bagian putihnya saja. Ia mengejang dan menggelepar shg pak Bajuri mundur ke sudut ruangan yg lain karena ketakutan.

Akhirnya dgn sekali sentakan, seperti orang tenggelam yg baru diselamatkan, mbah Slamet tersadar. Matanya mengerjap-ngerjap dan memicing menatap seluruh ruangan.

Dukun itu tersenyum penuh misteri,” pak Bajuri, mendekatlah anda.”

Pak Bajuri dengan ragu duduk kembali ke hadapan mbah Slamet.

“Pak Bajuri, anda sungguh berani sekali telah bertahan menemani saya melaksanakan ritual ini,” kali ini mbah Slamet berbicara dgn ramah.

Pak Bajuri mengangguk cepat, nafasnya masih ngos-ngosan. Namun dalam hatinya terselip rasa bangga dipuji oleh dukun kondang seperti mbah Slamet.

“Nanti sore, pak, seperti yg telah anda minta, sekitar jam 04.00 sore. Ratusan prajurit pantai selatan akan menyerang pemuda bernama Rotinsulu itu…”

“ Bukan begitu yg anda inginkan?”

“ Tt..,tepat sekali mbah. Terima kasih, terima kasih banyak, Mbah..”

Mbah Slamet kembali tersenyum, dr dlm mulutny terlihat giginya yg sudah rompal-rompal.

Tanpa ba bi bu !

Pak Bajuri langsung menyerahkan amplop tebal berisi 5 juta sbg uang muka. Ia buru-buru pamit dan meninggalkan tempat itu dengan tersenyum lega.

***


Awan, awan, dan awan. Hanya itulah pemandangan yang dapat terlihat dari dalam pesawat. Namun berbeda dengan pesawat penerbangan komersial biasa. Pesawat itu disewa khusus oleh pemerintah Palembang untuk menerbangkan tim sepak bola kota kembang tersebut ke Jakarta.

Ferry tidak bosan menatap pemandangan monoton di jendela penumpangnya. Karena sebenarnya ia memikirkan Annisa dan mencoba menimbun perasaan gugupnya dalam menghadapi pertandingan nanti. Menurutnya ini bukan pertandingan biasa. Rasa gugupnya yang semakin memuncak ini belum pernah ia temukan dalam 10 tahun terakhir karirnya di dunia sepak bola. Masa depannya tergantung pada pertandingan ini.

Ferry membuka liontinnya dan terus memandangi foto Annisa. Tiba-tiba matanya memicing.

Suasana di sekitar pemuda itu menjadi gelap ditingkahi kabut tebal mengganggu pandangannya.

“ Di mana ini?” pikir Ferry heran. Ia berada di tempat yang asing.

Tanpa suara, tanpa bau. Ia mencoba berjalan, berharap bertemu cahaya. Namun gelap terus melingkupinya.

Samar-samar Ferry mendengar panggilan lirih, suara itu…suara seorang wanita. Semakin berjalan ke depan, suara itu makin jelas meskipun tanpa wujud.

“ Ferry…Ferry tolong!” Ferry tersentak. Suara itu kini jelas sekali. Tak salah lagi, itu suara Annisa!

“ Ferry! Tolong!” teriak suara itu.

“ Annisa! Annisa! Kamu di mana?” Ferry mencari-cari dalam gelap.

“ Ferry!!”

Tiba-tiba Ferry sampai ke tepi jurang. Ia mencoba menunduk karena suara gadis yang mungkin Annisa semakin jelas. Betapa kagetnya pemuda itu melihat Annisa bergantung di ranting pohon tepi jurang beberapa meter dari tempat ia berdiri, mencoba menyelamatkan diri.

“ Nissa! Aku akan menyelamatkanmu,” Ferry mengulurkan tangannya pada Annisa,” ayo tangkap! Aku akan menarikmu dari situ.”

“ Ferry…aku sudah tidak kuat lagi…”

“ Tidak Nissa! Kamu akan selamat. Sekarang raih tanganku.”

“ Ferry…” tanpa peringatan ranting yang dipegang Annisa patah dan gadis itu langsung meluncur jatuh ke dasar jurang yang tak tampak.

“ Nissa! Nisa! Tidaaak!!”

Tahu-tahu ia sudah berada di lantai pesawat. Nafasnya masih sesak. Tubuhnya basah oleh keringat. Rupanya ia jatuh dari kursi pesawat.

“ Kamu ini kenapa, Fer?” tanya teman-temannya, mereka mengerubungi Ferry dengan pandangan heran karena kiper itu tiba-tiba berteriak heboh saat tidur.

“ Di mana ini?” Ferry memijat-mijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pening.

“ Ya ampun, Fer!” celetuk Carlos,” you get a bad dream?” Lalu membantu Ferry bangun.

Couch Darmawan geleng-geleng kepala.” Ini akibatnya kalau kamu berlatih terlalu keras, Fer,” komentar pelatih itu setengah kesal dan setengah kasihan.



continued to part 2